You are here
Home > Posts tagged "Preman Insyaf"

Insyafnya para Preman Mataram (Bagian 02)

Sarung pelekat pemberian Pak Wali, mengubah perjalanan hidup remaja jambret dan pengguna narkoba. Selembar kain sarung pelekat sebuah merek terkenal itu warnanya sudah mulai pudar. Warnanya hijau tua. Uniknya, meski sudah tergolong usang namun tetap berada dalam bungkusan aslinya. “Ini sarung amanat. Peninggalan ibu saya,” kata pemilik sarung. Begitu berartinya selembar sarung bagi Dagul (bukan nama sebenarnya). Lelaki ini menuturkan kisah pilu malam lebaran Idul Fitri dua belas tahun yang lalu. Satu jam setelah ibunya memberikan sarung itu kepadanya, ia dikejutkan sebuah kejadian tak disangka-sangka. “Setelah shalat, ibu saya bangkit hendak ke kamar kecil. Dia terjatuh hingga tak sadarkan diri. Saat hendak dibawa ke rumah sakit, nyawanya lepas, pergi untuk selama-lamanya,” ucap lelaki 34 tahun ini. Matanya merah menahan air mata yang menggenang. Dadanya turun-naik menahan duka. Sarung itu, tutur Dagul, adalah bingkisan

Insyafnya para Preman Mataram (Bagian 01)

"Tinju Pak Ruslan seperti godam besar merontokkan gigi saya. Entah pada pukulan yang ke berapa, saya akhirnya terjatuh dan pingsan, tanpa sempat melakukan balasan,” ungkap Madun mengenang peristiwa pada suatu malam. Usianya telah mendekati 60 tahun. Tubuhnya masih terlihat kekar. Wajahnya tetap sangar, namun kini lebih bersahabat. Ada dua titik hitam di keningnya, menandakan ia rajin shalat. Sambil bercanda dengan seorang cucu perempuannya, ia mengisahkan kejadian suatu malam belasan tahun yang lalu.  Peristiwa yang mengubah segalanya. Sebut saja namanya Madun. Mendengar namanya, seluruh warga di salah satu kecamatan di Mataram akan bergidik. Lelaki ini hampir saban malam menjadi biang onar, lantaran kegemarannya mabuk-mabukan. Tahun 1980-1990an wilayah sekitar tempat tinggalnya sunyi-senyap di saat malam hari. Madun tak peduli mencegat siapa pun yang melintas di jalan. Pekerjaannya

Top