You are here
Home > Posts tagged "HM Ruslan"

“Kiblat” Galang Boelan Tidak Berubah

(GBP Mataram) Lalu Siful Bahri pentolan tokoh pemuda Organisasi Masyarakat di Mataram Galang Boelan Baru, kembali menegaskan komitmenya mewakili organisasi ternama tersebut. Bahwa Galang Boelan sedikitpun tidak pernah menggeser komitmenya dalam bersikap menghadapi kontestasi Pilkada Kota Mataram. "Seperti yang telah diikrarkan sejak Galang Boelan terbentuk puluhan tahun lalu, Galang Boelan sama sekali tidak bergeming dari 'kiblatnya', apalagi dalam urusan pilkada ini. Kami tetap HMR apapun yang terjadi!" tegas Lalu Saiful Bahri yang ditemui di Ampenan, Selasa 18 Agustus 2020. Menurutnya Galang Boelan sudah lama tidak lagi sibuk dengan penentuan arah dukungan atau soliditas internal organisasi dalam menentukan sikap. Ormas terbesar di Mataram itu kini telah sangat sibuk dengan agenda-agenda konsolidasi dengan masyarakat di seluruh wilayah Kota Mataram. "Saat-saat ini kami sedang sangat sibuk

Disini Kami Mengerti Cara Mencintai Mataram

(GBP-Mataram) "Mengapa kami mau ikut aktif dalam organisasi Galang Boelan? Pertanyaan itu tidak jarang kami dengar," ungkap Lalu Saiful Bahri, tokoh pemuda Karang Sukun Mataram. "Bukan hanya bertanya, banyak juga pihak yang langsung menerka, bahkan memvonis bahwa kami ikut Galang Boelan karena ada kepentingan pribadi semata" sambung pemuda yang akrab disapa Epol ini. "Dan mereka salah!" tegasnya menjawab. Menurut Epol, ada satu hal yang akan sangat sulit dijelaskan dan dimengerti pihak luar organisasi. Yaitu bagaimana sosok pendiri Galang Boelan begitu menginspirasi. Bahkan memori tentang HM Ruslan saja sudah sangat mampu membakar semangat militansi bagi siapapun yang mau meresapi caranya mengayomi Kota Mataram ini. "Kisah-kisah almarhum (HM Ruslan, Walikota Mataram 1999 - 2010, red) tentang bagaimana cara beliau memimpin sambil mengayomi kota ini, sangat menginspirasi,"

Insyafnya para Preman Mataram (Bagian 02)

Sarung pelekat pemberian Pak Wali, mengubah perjalanan hidup remaja jambret dan pengguna narkoba. Selembar kain sarung pelekat sebuah merek terkenal itu warnanya sudah mulai pudar. Warnanya hijau tua. Uniknya, meski sudah tergolong usang namun tetap berada dalam bungkusan aslinya. “Ini sarung amanat. Peninggalan ibu saya,” kata pemilik sarung. Begitu berartinya selembar sarung bagi Dagul (bukan nama sebenarnya). Lelaki ini menuturkan kisah pilu malam lebaran Idul Fitri dua belas tahun yang lalu. Satu jam setelah ibunya memberikan sarung itu kepadanya, ia dikejutkan sebuah kejadian tak disangka-sangka. “Setelah shalat, ibu saya bangkit hendak ke kamar kecil. Dia terjatuh hingga tak sadarkan diri. Saat hendak dibawa ke rumah sakit, nyawanya lepas, pergi untuk selama-lamanya,” ucap lelaki 34 tahun ini. Matanya merah menahan air mata yang menggenang. Dadanya turun-naik menahan duka. Sarung itu, tutur Dagul, adalah bingkisan

Insyafnya para Preman Mataram (Bagian 01)

"Tinju Pak Ruslan seperti godam besar merontokkan gigi saya. Entah pada pukulan yang ke berapa, saya akhirnya terjatuh dan pingsan, tanpa sempat melakukan balasan,” ungkap Madun mengenang peristiwa pada suatu malam. Usianya telah mendekati 60 tahun. Tubuhnya masih terlihat kekar. Wajahnya tetap sangar, namun kini lebih bersahabat. Ada dua titik hitam di keningnya, menandakan ia rajin shalat. Sambil bercanda dengan seorang cucu perempuannya, ia mengisahkan kejadian suatu malam belasan tahun yang lalu.  Peristiwa yang mengubah segalanya. Sebut saja namanya Madun. Mendengar namanya, seluruh warga di salah satu kecamatan di Mataram akan bergidik. Lelaki ini hampir saban malam menjadi biang onar, lantaran kegemarannya mabuk-mabukan. Tahun 1980-1990an wilayah sekitar tempat tinggalnya sunyi-senyap di saat malam hari. Madun tak peduli mencegat siapa pun yang melintas di jalan. Pekerjaannya

Mengubah Citra Mataram Kota Tahi Kuda

Kota Mataram yang saat itu berjuluk “Kota Ibadah” begitu kontras dengan kondisi sarana umum yang nampak nakjis. Tahun 1990an, Kota Mataram punya julukan yang sangat memalukan: Mataram Kota Tahi Kuda! RAJA JALANAN di Mataram hingga 1990an bukan pengemudi kendaraan bermotor. Tapi jalan-jalan raya dikuasai para kusir cidomo (kendaraan tradisional yang dihela seekor kuda). Kendaraan ini sering melintas semaunya. Tak peduli traffick light, lampu merah ditabrak saja, sehingga menjadi biang kesemrawutan berlalu-lintas. Ketika polisi mencoba bertindak tegas, kusir-kusir dengan enteng menjawab, "Saya sudah coba menghentikan, Pak. Tapi kuda ini tak paham lampu merah." Inilah sejatinya debat kusir. Selain menjadi sumber masalah dalam berlalu-lintas, kotoran kuda terlihat di mana-mana. Jalan-jalan yang baru diaspal hotmix akan segera ternoda dan nampak jorok. Mas’ud, Walikota Mataram sebelum

Anti-Nepotisme ala Ruslan

"Jengkel betul saya. Percuma jadinya kita berkeluarga dengan penguasa kota," ucap Zainuddin kesal. Dengan wajah masam, Zainuddin, bukan nama sebenarnya, menuturkan kisah saat beberapa kali menghadap HM Ruslan, di akhir 2000an. Ia mengaku kerabat dekat Walikota Mataram dua periode itu. Kedatangannya mengabarkan anak lelakinya yang kini sarjana, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Mataram (Unram). "Keponakanmu lulus cum laude," lapor pensiunan di sebuah departemen ini kepada Ruslan di ruang kerja walikota. Ruslan menerima kedatangan kerabatnya dengan penuh kehangatan. Di akhir pertemuan, Zainuddin mengutarakan maksud utama kunjungannya. "Saya sampaikan kepadanya, agar anak saya bisa diterima sebagai pegawai," kenang Zainuddin. Mendengar itu Ruslan hanya tersenyum dan manggut-manggut. Senyum yang membesarkan hati Zainuddin. "Pasti dia akan prioritaskan. Ini 'kan keponakannya sendiri. Begitu kesimpulan saya saat pertama berjumpa Pak

Ruslan dan Kenari-kenari Tua

"Siapa berani-berani ganggu kenari-kenari itu, berarti berani berhadapan dengan saya," tantang HM Ruslan. Pohon-pohon kenari di sepanjang jalan protokol itu tahun ini genap berusia 125 tahun. Tak ada catatan berapa jumlah totalnya saat awal ditanam di masa Van der Hoogt menjadi Kontelir Lombok Barat, yang meliputi wilayah Mataram, di tahun 1895. Ketika Peraturan Walikota Mataram Nomor 24 Tahun 2009 tentang Penataan Taman dan Dekorasi Kota, mulai diberlakukan, tercatat 60 pohon kenari tua yang berjejer mulai Jalan Langko hingga Jalan Pejanggik di wilayah Pajang, Mataram. Melalui peraturan itu, pohon-pohon itu secara ketat mendapat perlindungan. Inilah sumbangan tergolong signifikan saat HM Ruslan memimpin Pemerintahan Kota Mataram, setahun sebelum jabatannya sebagai walikota periode ke dua berakhir. Jauh sebelum regulasi dikeluarkan, sempat terjadi perdebatan sengit

Top