You are here

Insyafnya para Preman Mataram (Bagian 02)

Sarung pelekat pemberian Pak Wali, mengubah perjalanan hidup remaja jambret dan pengguna narkoba.

Selembar kain sarung pelekat sebuah merek terkenal itu warnanya sudah mulai pudar. Warnanya hijau tua. Uniknya, meski sudah tergolong usang namun tetap berada dalam bungkusan aslinya.

“Ini sarung amanat. Peninggalan ibu saya,” kata pemilik sarung.

Begitu berartinya selembar sarung bagi Dagul (bukan nama sebenarnya). Lelaki ini menuturkan kisah pilu malam lebaran Idul Fitri dua belas tahun yang lalu. Satu jam setelah ibunya memberikan sarung itu kepadanya, ia dikejutkan sebuah kejadian tak disangka-sangka. “Setelah shalat, ibu saya bangkit hendak ke kamar kecil. Dia terjatuh hingga tak sadarkan diri. Saat hendak dibawa ke rumah sakit, nyawanya lepas, pergi untuk selama-lamanya,” ucap lelaki 34 tahun ini. Matanya merah menahan air mata yang menggenang. Dadanya turun-naik menahan duka.

Sarung itu, tutur Dagul, adalah bingkisan lebaran dari Walikota Mataram HM Ruslan ketika itu. “Pak Ruslan sendiri yang datang mengantar untuk warga di sini. Isi paket tak hanya sarung. Ada sembako juga. Peralatan shalat terpisah, ada telekung, sajadah, dan tasbih,” katanya.

Saat pembagian paket lebaran itu Dagul tak berada di rumah. Ia sedang berada di sekitar kompleks pasar Cakranegara. Hari yang naas baginya. Ia kepergok ketika berupaya menjambret kalung seorang wanita yang baru keluar dari pasar. “Untung teman saya yang menunggu di tempat parkir sudah menghidupkan mesin motor. Kami segera kabur dari kejaran banyak orang,” ujarnya.

Masa remaja Dagul cukup kelam. Setelah mengenal miras, meningkat menjadi pengguna narkoba. Lantaran ketagihan, ia mesti memiliki sejumlah uang untuk membeli paket shabu-shabu. “Dari mana dapat uang? Saya keluarga miskin. Ketagihan narkoba itu membuat saya terpaksa menjadi jambret. Di mana ada keramaian di Mataram ini saya selalu ada di situ, mengincar mereka yang lengah,” kenang lelaki yang kini menekuni usaha kampasing beberapa produk rumah tangga.

Sarung itu diberikan ibunya untuk dipakai shalat ied keesokan paginya. “Ibu meminta saya berjanji waktu itu, agar saya rajin shalat. Ia tak pernah melihat saya beribadah. Sayang ia tak sempat melihat saya berubah seperti yang diinginkannya. Tak pernah putus doa untuknya, sejak saya benar-benar bertaubat,” kembali bola mata Dagul memerah.

Dagul menjelaskan, kain pelekat itu selalu ia cuci dan lipat setelah dipakai. Ia gunakan khusus untuk shalat ied saja. Untuk shalat lima waktu ia memiliki beberapa sarung lain.

Sehelai sarung dari sang walikota, mengubah perjalanan hidup seorang remaja. Sementara pemberinya sendiri barangkali tak pernah menyangka benda itu menjadi semacam perantara menuju pertaubatan. Ruslan hanya merasa tergerak membagikan sesuatu untuk para jelata setiap menjelang lebaran, di luar kewajiban berzakat fitrah setiap hari raya Idul Fitri. (yung)

Leave a Reply

Top