You are here

Insyafnya para Preman Mataram (Bagian 01)

“Tinju Pak Ruslan seperti godam besar merontokkan gigi saya. Entah pada pukulan yang ke berapa, saya akhirnya terjatuh dan pingsan, tanpa sempat melakukan balasan,” ungkap Madun mengenang peristiwa pada suatu malam.

Usianya telah mendekati 60 tahun. Tubuhnya masih terlihat kekar. Wajahnya tetap sangar, namun kini lebih bersahabat. Ada dua titik hitam di keningnya, menandakan ia rajin shalat.

Sambil bercanda dengan seorang cucu perempuannya, ia mengisahkan kejadian suatu malam belasan tahun yang lalu.  Peristiwa yang mengubah segalanya.

Sebut saja namanya Madun. Mendengar namanya, seluruh warga di salah satu kecamatan di Mataram akan bergidik. Lelaki ini hampir saban malam menjadi biang onar, lantaran kegemarannya mabuk-mabukan. Tahun 1980-1990an wilayah sekitar tempat tinggalnya sunyi-senyap di saat malam hari. Madun tak peduli mencegat siapa pun yang melintas di jalan. Pekerjaannya tukang palak. Jika tak diberikan, ia tak segan-segan mengayunkan tinjunya, menghajar korbannya hingga babak-belur. Bahkan sering ia menggedor rumah warga meminta uang jika tak ada untuk membeli miras.

“Kepala saya pusing jika sehari saja tak ada masuk alkohol. Bahkan berkali-kali saya ikut menjarah rumah-rumah orang. Hasilnya ya habis untuk mabuk-mabukan,” tutur kakek tiga cucu ini.

Namun kebrutalan Madun berakhir total, ketika suatu malam di awal tahun 2000an, seorang lelaki mendatanginya malam-malam. “Saat itu saya baru mulai minum bersama dua kawan di sebuah rumah di dalam gang kampung,” ujarnya.

Lelaki itu bertubuh tinggi besar, memarkir sepeda motor bebeknya di pinggir gang. Tanpa permisi ia masuk. Begitu mengetahui siapa yang datang, dua kawan Madun bangkit dan segera melarikan diri. “Dia datang sendirian saja. Sebelum kawan-kawan kabur, mereka sempat menyebut nama. Pak Ruslan, Pak Ruslan, katanya. Saya tak tahu siapa Ruslan. Saya langsung bangkit menyambut orang yang berani-beraninya masuk kandang singa,” tutur Madun.

Namun sebelum ia melakukan apa pun, tiba-tiba sebuah tinju mendarat di dagunya. Belum sempat membalas, dua pukulan yang lebih keras menyasar mulut dan rahangnya. “Tinju Pak Ruslan seperti godam besar merontokkan gigi saya. Entah pada pukulan yang ke berapa, saya akhirnya terjatuh dan pingsan, tanpa sempat melakukan balasan,” lanjutnya mengenang.

Ruslan yang dikisahkan Madun, tak lain dan tak bukan adalah HM Ruslan, Walikota Mataram sejak 1999 hingga 2010. Bagi preman se-Mataram ketika itu, nama Ruslan menjadi momok. Ia sering turun tangan sendiri mengatasi dan mendatangi para pembuat keonaran di wilayah kerjanya. Ia seolah tak memiliki urat takut.

Dua hari setelah KO lantaran bogem mentah sang walikota, ia dijemput seorang lelaki berseragam. Ternyata ia dibawa ke pendopo walikota. Ada beberapa preman yang ia kenal juga sudah lebih dulu hadir di tempat itu. “Di sana Pak Ruslan memberikan banyak nasihat. Ia juga menyuruh kami shalat. Di sanalah untuk pertama kalinya saya sembahyang setelah bertahun-tahun tidak pernah sama sekali menunaikannya,” ucapnya.

Sebelum pulang, Madun diberikan sejumlah uang. Bantuan pribadi dari Ruslan. Uang itulah ia gunakan untuk memulai hidup baru. “Saya bangun kios kecil. Jual sayur dan sembako. Saya gantian dengan istri menjaga kios. Betul-betul saya tobat,” kata Madun.

Dari sebuah kios kecil, perlahan membuat perjalanan hidup Madun berubah drastis. Tiga tahun setelah itu ia membeli los berukuran 2×3 meter di sebuah pasar. Rumah yang ia tempati lebih dari sepuluh tahun adalah hasil jerih payahnya.

Ruslan membuatnya insyaf. Ia tak pernah melupakan sosok itu. Beberapa bulan sekali ia berkunjung ke kediaman penguasa kota itu. “Kalau beliau ada di tempat, saya selalu diterima beliau, jam berapa pun saya datang. Sampai masa jabatan beliau berakhir, sampai beliau wafat, saya tetap ke sana,” ungkap Madun. (yung)

Leave a Reply

Top