You are here

Mengubah Citra Mataram Kota Tahi Kuda

Kota Mataram yang saat itu berjuluk “Kota Ibadah” begitu kontras dengan kondisi sarana umum yang nampak nakjis. Tahun 1990an, Kota Mataram punya julukan yang sangat memalukan: Mataram Kota Tahi Kuda!

RAJA JALANAN di Mataram hingga 1990an bukan pengemudi kendaraan bermotor. Tapi jalan-jalan raya dikuasai para kusir cidomo (kendaraan tradisional yang dihela seekor kuda). Kendaraan ini sering melintas semaunya. Tak peduli traffick light, lampu merah ditabrak saja, sehingga menjadi biang kesemrawutan berlalu-lintas. Ketika polisi mencoba bertindak tegas, kusir-kusir dengan enteng menjawab, “Saya sudah coba menghentikan, Pak. Tapi kuda ini tak paham lampu merah.” Inilah sejatinya debat kusir.

Selain menjadi sumber masalah dalam berlalu-lintas, kotoran kuda terlihat di mana-mana. Jalan-jalan yang baru diaspal hotmix akan segera ternoda dan nampak jorok. Mas’ud, Walikota Mataram sebelum HM Ruslan, berkali-kali dibuat pusing perkara kendaraan tradisional ini. Segala aturan dibuat untuk upaya penertiban, juga imbauan resmi agar para kusir memasang karung di bawah pantat kuda agar tidak langsung jatuh ke jalanan. Tetapi jalan-jalan raya tetap centang-perenang. Kuda semakin semena-mena membuang hajat. Kota Mataram yang saat itu berjuluk “Kota Ibadah” begitu kontras dengan kondisi sarana umum yang nampak nakjis. Tahun 1990an, Kota Mataram punya julukan yang sangat memalukan: Mataram Kota Tahi Kuda!

Akhir tahun 1990an HM Ruslan terpilih menjadi Walikota Mataram. Beban warisan pertama yang mesti dituntaskannya adalah memperbaiki citra kota dari sisi kebersihan. Ia benar-benar total melakukan pendekatan, tak hanya dengan jajaran institusi terkait. Para kusir cidomo mendapat penyadaran melalui komunikasi interaktif dan penuh kekeluargaan dengan pemerintah kota. Ruslan terkenal tegas, tapi sangat memahami persoalan yang dihadapinya berurusan dengan sumber nafkah ribuan keluarga. Secara berangsur kusir alih profesi. Menjadi tukang ojek, membuka warung, dan usaha lainnya, dalam arahan, bimbingan, dan pendampingan intensif dari pemerintahan kota.

Sejak tahun pertama kepemimpinan Ruslan, jumlah cidomo berkurang drastis. Sejak itu pula jalan-jalan mulai bersih, dan citra kota pulih, bukan kota tahi kuda lagi. Perubahan yang signifikan ini ditandai dengan berubahnya jargon kota menjadi “Mataram Maju dan Religius”. (yung)

Leave a Reply

Top