You are here

Ruslan dan Kenari-kenari Tua

“Siapa berani-berani ganggu kenari-kenari itu, berarti berani berhadapan dengan saya,” tantang HM Ruslan.

Pohon-pohon kenari di sepanjang jalan protokol itu tahun ini genap berusia 125 tahun. Tak ada catatan berapa jumlah totalnya saat awal ditanam di masa Van der Hoogt menjadi Kontelir Lombok Barat, yang meliputi wilayah Mataram, di tahun 1895. Ketika Peraturan Walikota Mataram Nomor 24 Tahun 2009 tentang Penataan Taman dan Dekorasi Kota, mulai diberlakukan, tercatat 60 pohon kenari tua yang berjejer mulai Jalan Langko hingga Jalan Pejanggik di wilayah Pajang, Mataram.

Melalui peraturan itu, pohon-pohon itu secara ketat mendapat perlindungan. Inilah sumbangan tergolong signifikan saat HM Ruslan memimpin Pemerintahan Kota Mataram, setahun sebelum jabatannya sebagai walikota periode ke dua berakhir.

Jauh sebelum regulasi dikeluarkan, sempat terjadi perdebatan sengit antara Ruslan dengan sejumlah kalangan tentang keberadaan pohon-pohon tua yang dianggap rentan roboh. Terlebih, saat itu tengah berlangsung siklus musim yang tergolong ekstrem dalam sepuluh tahun terakhir. Angin kencang melanda Mataram. Pohon-pohon bertumbangan, sejumlah rumah rusak, dan timbulnya korban jiwa.

Saat itu, pohon-pohon yang pernah membuat para wisatawan Belanda menangis sambil memeluk batangnya itu, hampir menjadi target pemangkasan bahkan penebangan. Di situlah Ruslan dengan tegas menantang siapa pun yang berani mengganggu pohon-pohon tua di jalan protokol akan berurusan langsung dengannya.

“Siapa berani-berani ganggu kenari-kenari itu, berarti berani berhadapan dengan saya,” tantang Ruslan ketika itu.

Kengototan Ruslan mempertahankan kenari-kenari tua di Mataram bukan tanpa alasan. Selain sebagai saksi sejarah dan paru-paru kota, keberadaan pohon-pohon ini salah satu spesifikasi dan identitas kota. (yung)

Leave a Reply

Top