You are here

Anti-Nepotisme ala Ruslan

“Jengkel betul saya. Percuma jadinya kita berkeluarga dengan penguasa kota,” ucap Zainuddin kesal.

Dengan wajah masam, Zainuddin, bukan nama sebenarnya, menuturkan kisah saat beberapa kali menghadap HM Ruslan, di akhir 2000an. Ia mengaku kerabat dekat Walikota Mataram dua periode itu. Kedatangannya mengabarkan anak lelakinya yang kini sarjana, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Mataram (Unram).

“Keponakanmu lulus cum laude,” lapor pensiunan di sebuah departemen ini kepada Ruslan di ruang kerja walikota.

Ruslan menerima kedatangan kerabatnya dengan penuh kehangatan. Di akhir pertemuan, Zainuddin mengutarakan maksud utama kunjungannya.

“Saya sampaikan kepadanya, agar anak saya bisa diterima sebagai pegawai,” kenang Zainuddin.

Mendengar itu Ruslan hanya tersenyum dan manggut-manggut. Senyum yang membesarkan hati Zainuddin. “Pasti dia akan prioritaskan. Ini ‘kan keponakannya sendiri. Begitu kesimpulan saya saat pertama berjumpa Pak Ruslan,” lanjutnya.

Hari berganti hari. Masa rekrutmen pegawai negeri di lingkungan kantor Walikota hampir tinggal beberapa pekan. Namun kabar dari Ruslan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Untuk kedua kalinya Zainuddin menghadap lagi. Respon Ruslan pun sama seperti pertama kali ia diterima. Tersenyum penuh arti dan manggut-manggut.

Namun sampai masa testing penerimaan pegawai berakhir, Zainuddin tak jua menerima kabar yang begitu diharapkannya.

“Jengkel betul saya. Percuma jadinya kita berkeluarga dengan penguasa kota,” ucap Zainuddin kesal.

Lantaran itu ia tak pernah mau bertemu lagi dengan Ruslan. Bahkan ketika ada undangan acara-acara keluarga yang melibatkan walikota turut mengundang, ia tak pernah hadir.

Sampai suatu ketika, sebuah intansi vertikal membuka penerimaan seleksi pegawai negeri, putra Zainuddin turut melamar posisi yang ditawarkan. “Alhamdulillah, anak saya lulus seleksi. Sekarang dia sudah hampir sepuluh tahun menjadi pegawai negeri,” ujarnya.

Dengan kelulusan anaknya, Zainuddin merasa demikian bangga. Lalu bagaimana ihwal kekesalannya kepada Ruslan yang tak menggubris keinginannya dulu? “Anak saya lulus tanpa intervensi sedikit pun dari Pak Ruslan. Tapi, justru setelah itu saya menjadi kagum kepada beliau. Saya sudah buktikan sendiri, beliau anti nepotisme. Dan dengan sikapnya itu, menumbuhkan kepercayaan diri pada anak saya,” sahutnya.

Menurutnya, Ruslan secara tak langsung telah membangun kemandirian putranya agar tak bergantung pada siapa pun. (yung)

Leave a Reply

Top